Thursday, November 22, 2007

Aku Batak

Duluuuuu aku malu dan sebal sekali dibilang orang Batak, habis aku dengar olokan orang Batak itu kasar-kasar, suaranya menggelegar, makan oink-oink, guguk dan orang! Bah, bah! Dua "makanan" pertama, okelah, aku akui tapi makan orang? Masa sih? Penasaran, aku tanya bapakku, ceritalah beliau kalau cerita itu berawal dari datangnya penginjil dari Jerman, Nomensen namanya, di Sumatera Utara. Waktu itu orang Batak masih berkepercayaan Animisme, nah, dengan datangnya Bang Nomensen mereka murka, dianggap orang yang bikin huru hara. Nomensen ditangkap, dibunuh dan dikuliti. Sadis memang, tapi keberaniannya menyebarkan Injil di Sumatera nggak sia-sia, terbukti dengan banyaknya orang Batak yang meninggalkan kepercayaan lamanya dan beralih ke Tuhan. Apakah setelah dikuliti Nomensen dimakan? Nggak ada yang tau, tapi sejak itu jadi santerlah cerita orang Batak makan orang.

Sebagaimana orang tua Batak lainnya, orang tuaku pun, terutama Bapak, ingin sekali anak-anaknya menikah dengan orang Batak pula. Begitu cukup usia untuk memulai pacaran, kami sering kedatangan tamu atau diperkenalkan dengan para "pariban" yaitu anak dari kakak atau adik perempuan bapak. Kebetulan bapakku nggak punya adik atau kakak perempuan, tujuh bersaudara semuanya "lanang kabeh", tapi bapak punya sepupu-sepupu perempuan, anak-anak laki-laki mereka juga adalah paribanku. Beberapa orang pernah datang, yang bukan pariban pun tapi orang Batak, datang juga. Kalo' udah begini, aku biasanya malas keluar kamar, ngumpet aja sampai mereka pulang. Nggak ada yang ganteng, hahahaha ... Ah, akupun juga nggak menarik kok, jadi impas lah, hehehe ...

Aku pernah naksir orang Batak? Hmmm, pernah, itupun karena mereka duluan yang naksir, hahaha ... dan kebetulan yang naksir ini enak dipandanglah, nggak kotak-kotak mukanya, hahaha ... Tapi nggak pernah jadi dan aku pun santai aja, emang gue pikirin, hehehe ...

Enam bersaudara kami semua, hanya satu yang menikah dengan orang Batak, tapi bapak nggak tau karena beliau dipanggil Tuhan pada saat kami masih bersekolah semuanya. Mamaku, nggak sekeras bapak, kami dibebaskan memilih asalkan beriman sama. Cucu mama sekarang berjumlah tujuh orang, berwajah manis semuanya, perbaikan keturunan karena pernikahan antar suku dan antar bangsa, kata orang yang aku setujui, hehehe ...

Di Indonesia, kalau orang ngeliat aku, tebakan mereka tepat, aku Batak, tapi banyak juga yang mengira aku Menado bahkan beberapa bilang aku keturunan Chinese. Whatever, aku adalah orang Batak yang nggak bisa berbahasa Batak dan bersuara katak. Malah pulang kampung cuma sekali, itupun jaman baheula tahun 78. Sekarang, lama meninggalkan tanah air, aku kangen masakan Batak, ikan arsik, sangsang, panggang, sambal tuktuk, ikan teri Medan pedas, yummmy!! Malah aku kepengen sekali ngeliat si moncong di tampah pesta adat, hahaha ... tor-tornya, lagunya, gondangnya, ... Oh, Tano Batak, sai naeng hutatap ...

Di negeri dingin ini, lain lagi. Semua mengira, yah, mungkin juga dialami oleh orang Indonesia lain, aku ini Filipino. Malah beberapa orang dengan PD-nya ngajak aku ngomong Tagalog. Salah satu anak tetanggaku bule yang baru pertama kali ngeliat aku dan anakku, Phoebe, nanya begini: Are you Phoebe's nanny?

Bah, bah, bah!

2 comments:

Kindeng said...

Hai sesama orang Batak, aku juga ingat soal pariban. Tiap ada orang Batak datang ke rumah, langsung aku selidiki. Dia itu Amangboru apa ngga? Kalau ya, punya anak laki-laki apa ngga? Kalau punya, umurnya lebih tua dari aku apa ngga? Kalau semuanya jawabannya ngga, lega deh ni ati. Tp kalau ada jawaban yang ya, hmmm... masuk kamar aja atau klau hrs keluar, pasang muka seasem mungkin. Ha..ha..ha... GR banget ya.
Batak memang bisa buat kangen, jadi cuma dari jauh aja.

Kindeng said...

Tambah lagi nih. Krn kisah orang Batak makan orang itu, Jan bilang gini. Tiap pagi aku bersyukur, masih uth badanku (Abis tidur di samping orang Batak).